Jurus Jitu Selalu di Puncak


indosatDi dunia bisnis, ada sejumlah eksekutif yang di mana pun bekerja selalu menempati top level. Siapa saja yang masuk barisan C-League ini? Apa kiat sukses mereka?

Menjadi presiden direktur perusahaan bisa dibilang dambaan setiap orang. Tentunya, untuk menjadi orang nomor satu itu, perlu usaha yang luar biasa. Demi mewujudkan ambisi itu, perlu lobi kanan-kiri. Namun, sejumlah eksekutif justru ditawari untuk menduduki posisi top level karena mereka memang kompeten dan dibutuhkan.

Mereka itulah yang disebut barisan Chief League (C-League), yaitu kelompok eksekutif top yang kariernya terus menanjak, sedang menduduki posisi strategis di perusahaan top, dan punya masa depan cerah. Salah satunya, Emirsyah Satar, yang saat ini menjabat sebagai Presdir PT Garuda Indonesia. Karena kompetensinya, dia selalu menempati posisi strategis di mana pun dia bekerja. Itu semua bukan karena dia yang mengajukan diri, melainkan karena dipinang. “Alhamdulillah, selama berkarier saya hanya pernah melamar di dua tempat,” ungkap Emir. Yaitu, saat melamar ke Coopers & Lybrand sebagai auditor (1983-85) ketika masih kuliah dan melamar ke Citibank pada 1985 selulus Universitas Indonesia (UI).

Selebihnya, Emir dipinang berbagai perusahaan. Dia sempat menjadi GM Divisi Keuangan Korporat Grup Jan Darmadi, Presdir PT Niaga Factoring Corporation, CEO Niaga Finance Co. Ltd. (Hong Kong), Direktur Keuangan PT Garuda Indonesia, Wakil Dirut Bank Danamon, serta Dirut Garuda (2005-sekarang). “Bagi saya, kunci sukses itu adalah be professional,” Emir menegaskan.

Memang, profesionalisme menjadi kunci sukses tak hanya bagi Emir, tapi juga bagi para eksekutif top lainnya. Dengan kerja profesional itulah, akan dihasilkan output dan kinerja yang baik. “Di mana pun bekerja, lakukanlah yang terbaik, itulah kuncinya agar bisa terus menjadi ekseskutif top yang masuk jajaran C-League,” kata Hasnul Suhaimi, Dirut PT Excelcomindo Pratama (XL), menambahkan.

Untuk meraih posisi saat ini tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Hasnul merintis kariernya sejak 1982 dengan bergabung di perusahaan minyak Schlumberger. Lalu, hijrah ke perusahaan telekomunikasi Indosat dan XL. Ketika di Indosat, sempat ditugaskan ke Telkomsel yang saat itu merupakan anak perusahaan Indosat. Di Telkomsel, kariernya terus melesat, hingga pada 2001 dia dipercaya menjadi Direktur Utama IM3. Dan, pada 2005, Hasnul Dirut Indosat.

Sebetulnya, Hasnul tidak berpikiran pindah ke perusahaan lain karena baginya terlalu sering pindah pun tidak bagus. “Selama masih bisa berkontribusi dan memberikan nilai tambah ke perusahaan, lebih baik bertahan,” katanya. Ketika bergabung dengan XL pun, dia tidak direkrut head-hunter, tetapi melalui pemegang saham. Memang, posisi Dirut XL saat itu tengah kosong karena dirut yang lama mengundurkan diri. Dia mengatakan, tidak ada lobi-lobi khusus ke pemegang saham, hanya pembicaraan biasa. “Mereka melihat match atau tidak dengan perusahaan, track record dan kepribadian. Awalnya saya tidak terlalu berminat, tapi diskusinya open sekali dan ternyata match dengan kepribadian saya yang relatif agresif, progresif maju. Sementara, perusahaan (XL) ada keberanian berinvestasi. Jadi, match,” kata kelahiran Bukittinggi 23 April 1957 itu.

Hasnul juga merasa value-nya di Indosat mulai habis dan tidak terlalu dibutuhkan lagi. Dia berpikiran mencari tantangan dan tempat baru yang lebih membutuhkan kemampuannya. Gaji atau kompensasi tidak jauh berbeda. Memang, di perusahaan swasta dan BUMN ada perbedaanya. Di BUMN gajinya lebih kecil, tapi fasilitasnya banyak. Sementara, gaji di perusahaan swasta besar, tapi fasilitasnya tidak sebanyak di BUMN. “Jika dikalkulasikan semua, yang saya dapat selama setahun ya sama,” kata Hasnul, yang kontraknya sebagai Dirut XL sampai 2011.

Di bidang perbankan, nama Paulus Wiranata cukup dikenal. Kelahiran Palembang, 25 September 1955 itu sekarang menjabat sebagai Presdir Bank Andara. Memang, kemampuannya di perbankan tak diragukan lagi. Terbukti, saat dirinya didaulat sebagai Presdir Bank Tabungan Pensiun Nasional yang melakukan transformasi dari bisnis keluarga menjadi organisasi profesional.

Untuk mengasah kemampuan, mantan Country Manager Bank of New York di Indonesia itu sering meluangkan waktu untuk membaca. Tujuannya, memperluas wawasan. Bacaannya pun tidak sebatas pada bidang yang diminatinya. Meski lama berkecimpung di perbankan, Wiranata mengaku tidak menutup diri untuk informasi lainnya. “Harus meluangkan waktu untuk memperkaya dengan bacaan,” ungkapnya. Hal ini sangat penting untuk pergaulan. Sebagai orang di posisi strategis, dia harus selalu mengembangkan channel-nya. “Kan tidak selamanya ngomongin perbankan dan ekonomi, meski ketemu orang dari bidang itu. Yah, supaya obrolan luwes,” kata mantan Direktur Bank Niaga (1994-2002) itu memberi alasan.

Wiranata juga tak jarang mengikuti berbagai seminar perbankan. Tak cuma dalam negeri, lulusan Akuntansi UI itu pun sering ke luar negeri untuk seminar dan aneka pelatihan dalam rangka mengembangkan kemampuan dan kompetensi dirinya. “Sampai sekarang, kalau ada waktu luang, saya berusaha untuk ikut seminar,” ujarnya. Di sela kesibukannya, dia selalu meng-upgrade pengetahuannya dari berbagai sumber bacaan, termasuk Internet.

Upaya menambah wawasan pun dilakukan Andreas Halim, Dirut Grup Soho, dengan membaca koran, artikel dan jurnal; menonton televisi; atau berdiskusi dengan teman-temannya. Tak lupa dia pun selalu berhubungan dengan banyak pihak, terutama di luar perusahaan. Dan, dia pun menekankan: kalau ingin karier tetap sukses, ”Kerja sebaik mungkin dan jaga hubungan yang baik ke atas, bawah dan rekan-rekan.” Itulah kiat sukses yang selama ini dijalankan Andreas.

Memang, menjaga relationship menjadi bagian penting dalam menapaki karier dengan baik. Malah Darwin Silalahi, Country Chairman dan Presdir PT Shell Indonesia, merangkumnya dalam konsep CAR: Capacity, Achievement, Relationship. Lebih jauh Darwin menjelaskan, capacity merupakan kemampuan yang dibawa orang tersebut, seperti inteligensi yang tinggi, kompetensi yang dibangun melalui pembelajaran yang terus-menerus, dan cara berpikir strategis serta bisa mengeksekusinya. Achievement merupakan hal apa saja yang bisa dicapai dalam hidup orang tersebut. Bukan saja dalam pekerjaan, tapi terkait dengan pencapaian pribadi juga.

Yang terakhir, relationship, adalah membangun jaringan yang lebih luas, terutama ke pemimpin bisnis, merupakan keharusan. Dalam membangun hubungan ini, juga termasuk kemampuan kita dalam satu tim. “Kita harus membangun reputasi diri dan membuat setiap orang ingin bekerja dengan kita, setiap orang ingin menjadikan kita sebagai tim member, bahkan leader dari tim tersebut,” kata Darwin. Dengan resep ini, dia pun bisa sukses menapaki karier, seperti pernah menjabat sebagai direktur di Grup Bakrie dan CEO Booz Allen & Hamilton.

Evelina Setiawan, Direktur Pemasaran Grup Agung Sedayu, menambahkan, kiat lainnya adalah tidak pernah berhenti bekerja dan belajar, selalu menganalisis, mengevaluasi kembali apa yang sudah kita lakukan, buka mata dan telinga, dan selalu menerima masukan. “Satu hal, saya tidak pernah beranggapan bahwa saya adalah marketer andal,” katanya merendah. Evelina menekankan bahwa dirinya tetap fokus dan tak akan pernah berhenti mencintai dunia arsitektur dan properti yang dia geluti saat ini.

Ekspatriat seperti Erik Meijer, yang kini menjabat sebagai Wapresdir PT Bakrie Telecom Tbk., memiliki kiat tersendiri agar kariernya eksis. Sebagai “tamu” di Indonesia, Erik mengaku harus tahu cara menghargai tuan rumah. Makanya, pertama kali yang dilakukannya adalah belajar bahasa. Tak mengherankan, lulusan International Business Scholl Groningen, Belanda, dan Middlesex University, London, itu harus menghabiskan waktu dua tahun untuk mempelajari bahasa Indonesia. Salah satu caranya, memperluas pergaulan. “Dengan begitu, saya jadi bisa mulai mempelajari orang Indonesia,” ungkap eksekutif yang pernah berkarier 11 tahun di Telkomsel itu.

Lalu, bagaimana saran konsultan agar masuk dalam jajaran C-League? Riri Satria, Consulting Director People Performance Consulting Indonesia, memberi masukan, pertama, eksekutif harus memiliki sesuatu yang ditawarkan untuk menyelesaikan persoalan di perusahaan yang dimasukinya atau strategi untuk membawa perusahaan tersebut menjadi lebih baik, dengan menjelaskan secara strategis-normatif dan teknis-operasional. Sampaikanlah dengan jelas dan lugas, dan tentu saja harus menguasai bidang usaha perusahaan yang akan mereka pimpin. Ini menunjukkan kepada head-hunter bahwa “you are really someone that fit for this job”.

Kedua, eksekutif harus memahami karakteristik penggajian di sektor industri tersebut. Ini penting, supaya tidak over-expectation dengan remunerasi nantinya. “Kecuali jika mereka memang punya sesuatu yang sangat luar biasa, tidak ada salahnya untuk menembus batas karakteristik remunerasi di sektor industri tersebut,” ujar Riri.

Menurutnya, sekarang sudah tidak zamannya seorang eksekutif hanya memahami bidang tertentu (sangat spesialis), atau tidak mampu berpikir holistik. Yang begini lebih baik jadi expert saja. Atau, generalis sekalian. Tahu banyak, tetapi tidak mendalam, tidak paham teknis-operasionalnya, ini akan menjadi orang yang sangat normatif, “tidak membumi” bahkan ada yang hanya job oriented, tapi kurang people oriented. Keduanya tidak lagi dipertentangkan, melainkan saling melengkapi.

Nah, di sini eksekutif juga harus mampu memahami sektor industri serta bagaimana kondisi perusahaan yang ditawarkan kepadanya untuk dipimpin. Dengan memahami sektor industri, mereka akan memahami karakteristik industri: kondisi pertumbuhan, pola kompetisi, prospek, karakteristik remunerasi, karateristik SDM, dsb. Itu penting untuk mengukur diri, apakah fit dengan karakteristik sektor industri tersebut.

Di samping itu, eksekutif masa depan adalah yang sifatnya kombinasi antara wawasan yang generalis dengan keahlian yang spesialis. Apalagi, dalam situasi krisis seperti saat ini. Pada situasi krisis, eksekutif harus terjun sampai tataran teknis-operasional, tidak hanya pada tataran strategis-normatif. Hal ini menuntut eksekutif memahami aspek teknis operasional di bidangnya, tidak hanya bersifat umum. Di sisi lain, juga harus memiliki wawasan yang generalis. Artinya, mereka punya wawasan mengenai bidang di luar penugasannya, tetapi sangat relevan untuk kebutuhan bisnis perusahaan.

Tak lupa, yang juga dituntut untuk dimiliki eksekutif akhir-akhir ini adalah kemampuan membaca peta kekuatan di dalam organisasi. Suka tidak suka, di dalam setiap organisasi ada benturan kepentingan, blok-blok kekuatan, yang sering disebut dengan istilah politik kantor (office politic). “Nah, eksekutif juga harus memahami dan mampu membuat peta office politic ini supaya ia bisa memainkan berbagai variabel di dalam organsiasi untuk mencapai tujuan bersama,” kata Riri.

Terakhir, tentu citra diri dan personal branding harus tetap dijaga. Seorang eksekutif yang memiliki itu semua akan jadi incaran head-hunter. Namun, hati-hati, personal branding yang berlebihan bisa menjadi back-fire, yang justru akan merugikan sehingga kandas dari jajaran C-League.

Sumber: SWA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: