Kerjasama Suami-Istri


Budaya kita menempatkan perempuan dengan peran baku sebagai pengelola pekerjaan domestik. Mencuci, memasak, mengurus anak dan tetek bengek pekerjaan rumah tangga lainnya seringkali sianggap sebagai kodrat istri. Para suami? Ada yang tidak mau peduli, ada yang mau membantu tetapi tertekan, tapi ada juga yang bahagia menyingsingkan lengan untuk bersama-sama mengurus pekerjaan rumah tangga.

Ada beberapa gambaran tipologi rumah tangga dalam membagi peran kerja antara suami dan istri. Menurut Ida Ruwaida Noor, dosen Sosiologi Fisip UI, tipologi keluarga Indonesia dalam kaitannya dengan pembagian kerja rumah tangga ada tiga kelompok besar.

Pertama, keluarga yang melakukan pembagian kerja secara baku atau tradisional. Keluarga tipe ini membagi tugas secara absolut dengan memberikan perempuan tugas melahirkan anak, mengasuh anak, dan mengurus rumah tangga, sedangkan laki-laki hanya khusus mencari nafkah.

Kedua, keluarga yang melakukan pembagian tugas dengan cair, tidak ketat. Prinsipnya, pembagian tugas dilakukan secara situasional atau kondisional. Kalau memang laki-laki sempat memasak, kenapa tidak ? Kalau perempuannya senang melap mobil, kenapa tidak? Bahkan kalau perempuan mau bekerja dan memiliki gaji besar kenapa tidak laki-laki bertugas di rumah?

Ketiga, keluarga dengan tipe antara cair dan baku. Di satu sisi masih memegang bentuk baku, tapi di sisi lain mulai mengarah ke yang cair. Contohnya, kaum perempuan ikhlas saja dengan ketentuan porsi yang lebih besar untuk keluarga, tapi tetap memiliki peluang untuk berperan di sektor publik dengan beban kerja yang disesuaikan dengan beban pekerjaan domestik. Misalnya memilih profesi dosen, yang tidak full time.

Untuk tipe keluarga yang kedua dan ketiga kini mulai banyak bermunculan di kota-kota besar.

Pembagian peran ini dapat dikompromikan sesuai dengan kemampuan masing-masing dalam memanage rumah tangga. Dan komunikasi pasutri adalah hal yang tidak boleh diabaikan dalam mengantisipasi timbulnya masalah akibat pembagian tugas rumah tangga. Misalnya, ibu harus pergi, tapi anak-anak tetap harus ada yang menjaga. Bagaimana caranya? Ini perlu dicarikan jalan keluar. Tidak mungkin ayah pergi, ibu pergi dan anak-anak sendirian.

Sayangnya, pekerjaan rumah tangga oleh sebagian kalangan masih dianggap sepele dan kurang dihargai. Bagaimana mungkin dianggap sepele jika Rasulullah memberikan penghargaan yang begitu tinggi- setimpal dengan pahala jihad fi sabilillah-untuk para istri yang ‘ikhlas’ dalam menjalani peran dan fungsinya. “Laki-laki mati syahid di medan perang sama dengan seorang ibu yang mati sedang mengiris bawang dalam keadaan ikhlas, suaminya juga ridho, dia juga ridho dengan keberadaan suaminya. Subhanallah.”

“Dalam Islam, seorang istri keluar mencari nafkah hanya bersifat anjuran, sunnah. Kalau suami itu wajib. Nah, dahulukan yang wajib.” Artinya, ayo saling bantu dalam urusan rumah tapi bukan berarti tukar peran.

Sumber: Majalah Ummi No. 9/XIII
Januari-Februari 2002/1422 H

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: