Kiat Selamat Disaat Krisis


Permasalahan keuangan kita terletak pada satu kenyataan yaitu tidak cukupnya penghasilan yang kita peroleh. Dan jawaban yang tepat untuk mengatasinya juga jelas yaitu membuatnya menjadi cukup. Sebagian dari kita akan berkata menapatkan penghasilan tambahan adalah jalan keluarnya. Saya tidak bisa menyalahkan anggapan seperti itu. Tapi apakah selalu penghasilan tambahan menjadi solusi ? Padahal harus diakui mendapatkan penghasilan dari luar tidaklah mudah. Bahkan kadangkala pengorbanan yang harus dilakukan tidak seimbang dengan hasil yang diperoleh. Belum lagi tidak semua orang bisa melakukannya. Untuk itu, sebelum memutuskan untuk mencoba mencari tambahan penghasilan dari luar, mungkin pembenahan di dalam bisa dilakukan terlebih dahulu. Sebab adalah suatu yang sia-sia bila kita menambah penghasilan namun tidak ada perubahan pola dalam menggunakan. Sebab yakinlah masalah keuangan bukan bergantung pada berapa besar yang kita dapatkan tapi bagaimana mempergunakannya.

* Evaluasi penggunaan Dana
Langkah awal untuk menstabilkan keuangan adalah membuat evaluasi terhadap keuangan kita. Coba lakukan pencatatan bulan ini apa saja pengeluaran yang keluarga telah lakukan untuk memenuhi seluruh kebutuhannya. Sebuah keluarga pernah melakukan konsultasi untuk mengelola pengeluaran bulanannya yang katanya selalu di atas target yang telah ditentukan. Setelah dilakukan evaluasi secara bersama-sama, maka diketahui bahwa biaya belanja keluarga selalu melebihi dari anggaran tiap bulan. Ini terjadi karena pada saat belanja, keluarga tersebut selalu melakukannya bersama-sama dan selalu mengeluarkan uang lebih untuk acara sarapan yang tidak dianggarkan sebelumnya. Masalahnya dana ini selalu diambil dari anggaran belanja sehingga uang belanja selalu melebihi target.
Untuk itu mulai saat ini pisahkan pengeluaran yang memang utama dengan pengeluaran yang pengikutnya. Dengan demikian akan diketahui berapa besar pengeluaran riil keluarga tiap bulan.

* Buat Prioritas pengeluaran
Keluarkan yang harus dikeluarkan, dan tahan untuk yang belum dibutuhkan. Kadangkala kita merasa telah berusaha untuk mengeluarkan hanya yang dibutuhkan, dan telah meninggalkan yang diinginkan. Tapi bila ditanya apa kriteria butuh dan ingin ? bagaimana membedakannya ? mungkin tidak semua bisa menjawabnya secara pasti. Butuh adalah pengeluaran yang harus dilakukan, dan ingin adalah pengeluaran yang masih bisa ditunda. Jadi dengan definisi sederhana ini kita seharusnya bisa membuat dengan jelas apa saja prioritas dalam pengeluaran keluarga. Coba tanyakan ke diri Anda pada saat mengeluarkan uang.
“Apakah pengeluaran ini bisa ditunda ? apa akibatnya bila ditunda?”
bila jawabannya adalah tidak bisa ditunda atau bila ditunda akan mengakibatkan efek negatif yang lebih tinggi, maka itu adalah kebutuhan. Namun bila dari pertanyaan pada diri Anda tadi terjawab bahwa ditundapun tidak menjadi masalah, atau kalau ditunda tidak memberikan efek negatif terlalu besar, maka itu adalah keinginan.
Saat ini komunikasi adalah suatu kebutuhan. Dan membeli pulsa otomatis adalah kebutuhan. Bila dengan ditundanya membeli pulsa akan berakibat fatal kepada diri Anda dan keluarga misalnya akan mengganggu usaha keluarga, maka membeli pulsa adalah kebutuhan. tapi bila penundaan membeli pulsa hanya berakibat Anda tidak bisa menghubungi rekan arisan atau rekan nongkrong Anda, maka itu adalah keinginan.

* Redam pengeluaran tidak terdeteksi
Salah satu kegagalan dalam keuangan keluarga adalah terjadinya pemborosan. Sebuah keluarga pernah melakukan konsultasi tentang hal tersebut. Pengeluaran telah dianggarkan semua, dan secara hitam di atas putih kelebihan dana terdeteksi ada. tapi kenapa di akhir bulan uang tersebut selalu habis bahkan kurang ? Walaupun saya tahu bahwa kita bisa saja melakukan penyusuran satu persatu, tapi saya rasa hal itu akan membosankan. Jadi kenapa tidak kita rubah polanya. Saya menyarankan kepada keluarga itu untuk menambahkan 1 hal yang tidak pernah mereka lakukan sebelumnya yaitu menyelamatkan kelebihan dana mereka. Tiap awal bulan, setelah menghitung dan membuat anggaran, keluarga tersebut biasanya membiarkan kelebihan dana mereka di dalam tabungan sebagai dana tak terduga. Maka mulai saat setelah konsultasi, mereka harus meletakkan kelebihan dana tersebut dalam bentuk barang produktif, dalam hal ini keluarga tersebut setuju untuk membeli emas koin. Apa yang terjadi ? setelah session konsultasi , tiap bulan keluarga tersebut selalu bisa membeli mas koin dan selalu bertambah terus jumlahnya tiap bulan. Bagaimana dengan dana tak terduga ? saya sarankan untuk menggunakan kartu kredit untuk hal tersebut. Tapi tentu saja dengan konsekuensi harus membayarnya setelah di tagih. Dananya ? ya dari menjual emas. Tapi entah mengapa sampai saat ini kartu tersebut belum pernah digunakan.
Kadangkala sadar atau tidak , kalau kita menyisakan uang untuk sesuatu yang tak terduga, maka hal tak terduga itu tersebut bisa terjadi. Untuk itu jangan mengharapkan untuk terjadi, caranya pisahkan dulu kelebihan dana Anda dimuka, agar tidak menjadi pengeluaran tak terduga dan tak terdeteksi.

Sumber: Safir Senduk, Perencana Keuangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: