Persaingan di Tempat Kerja Meningkat


Persaingan di tempat kerja merupakan hal yang sehat dan bisa mendatangkan keuntungan bagi perusahaan khususnya di saat kondisi perekonomian sedang sulit seperti sekarang ini. Namun, para pemimpin HR harus awas terhadap kompetisi yang menjurus tidak sehat, yang bisa merusak semangat kerja, produktivitas dan menyulitkan usaha perusahaan untuk meretensi karyawan-karyawan terbaik.

Demikian diungkapkan oleh Direktur Eksekutif OfficeTeam Dave Willmer yang baru saja melakuan survei yang menemukan bahwa hampir 46% perusahaan yakin, karyawan mereka lebih kompetitif dengan sesama rekan kerja di kantor dibandingkan dengan 10 tahun lalu.

OfficeTeam adalah perusahaan staffing yang berkantor pusat di California, salah satu divisi dari Robert Half International. Mereka mensurvei 150 eksekutif senior di perusahaan-perusahaan di Amerika.

“Lebih-lebih dalam setahun terakhir ini, persaingan antarkaryawan di kantor semakin tinggi,” tambah Willmer. Menurut dia, karyawan sering merasa khawatir atas pekerjaan mereka ketika mereka tidak cukup mendapatkan pengakuan. “Jika pengakuan diberikan atau tidak diberikan secara tidak fair, maka orang akan bersaing untuk mendapatkannya.”

Persaingan antarkaryawan di tempat kerja juga meningkat ketika perusahaan tidak mengkomunikasikan dengan baik kondisi perusahaan dan masa depan karir para karyawan. “Ketika Anda tidak tahu, Anda akan bilang pada diri sendiri, saya harus melakukan apa pun yang saya bisa,” papar Willmer. Diingatkan, hal itu tidak sehat.

Penulis buku Succeeding with Difficult Co-Workers, Joseph Koob berpendapat bahwa pertumbuhan kompetisi di tempat kerja juga ikut dipicu oleh tekanan dari atasan. “Jajaran eksekutif senior dan menengah kini memperpanjang jam kerja mereka dan meletakkan tekanan pada semua orang,” ujar dia.

Pada saat yang bersamaan, sambung Koob, loyalitas terhadap perusahaan menurun dan karyawan yang bagus cenderung berpindah-pindah tempat kerja. Itu artinya, orang-orang yang benar-benar berkualitas bergentayangan di mana-mana, dan itu membuat para manajer dan lainnya khawatir dengan keamanan posisi mereka, yang pada gilirannya memicu persaingan yang lebih tinggi.

Diingatkan, kompetisi antarkaryawan bisa menjadi sesuatu yang bagus jika mendorong orang untuk berbuat yang terbaik, tapi bisa menjadi tidak sehat ketika karyawan merasa tidak puas dan keluar dari perusahaan. “Itu merugikan organisasi,” kata dia.

Lalu, bagaimana kompetisi itu masih sehat atau sudah mengarah tidak sehat? Koop menyarankan agar para pemimpin senantiasa “turun ke bawah” dan bicara dengan anak buah. Salah satu tanda, (kompetisi yang sudah menjadi tidak sehat) menurut Koop, “Orang saling mengeluhkan satu sama lain, saling tunjuk. Yang satu menyalahkan lainnya.”

Senada dengan Dave Wilmmer, Koop mengisyaratkan, kuncinya ada pada pengakuan dan penghargaan. “Jika karyawan merasa diapresiasi, mereka cenderung tidak khawatir atas pekerjaan mereka dan engage dalam kompetisi yang sehat,” ujar dia. “Semua berawal dari bagaimana orang diperlakukan. Jika manajer berusaha memahami mereka, dan menghargai siapa mereka, maka competision is fine.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: